Pagi
di kesunyian, saat banyak orang masih terlelap dalam mimpi indahnya, dia telah
lebih dulu terbangun. Mengambil sebuah notebook dan pena yang selalu berada di
dekatnya, di mana pun dia berada. Melukiskan kata di atas lembar demi
lembarnya.
Sepagi
itu pikirannya masih begitu jernih, raganya sungguh segar setelah semalaman
memenuhi haknya untuk beristirahat. Sembari membuka lembaran notebook di
tangannya, ia tersenyum menyambut lembaran berikutnya untuk dituliskan sebuah
kisah indah dan berbagai harapan baik dihidupnya.
Ia
sang pengelana, menyukai dunia luar yang indah dan luas. Namun dikala kehampaan
datang, rasa sepi menjadi temannya kala itu. Tidak ada lagi kelana ke dunia
luar yang katanya indah dan luas, hanya berkelana dalam indah dan luasnya makna
dari kehidupannya sendiri. Masih sebuah kata dengan nama “kelana”.
Berminggu-minggu
menikmati kelana, lebih mendalam dari sekadar berkeliling menjelajah indahnya
semesta. Jiwanya sempat begitu rapuh, namun ia seorang yang tak mudah berputus
asa. Selalu ada senyum di balik kecewanya, tatapan mata yang lebih jernih
bersamaan dengan luka-luka yang kian hari kian meluruh. Di dalam ruangan dia
menjelajah dirinya sendiri, mengenal lebih dalam siapa dirinya.
Luasnya
semesta tak kalah luas dengan semesta yang ada pada dirinya, sorot matanya
memberikan pandangan penuh makna, meneduhkan dan menyenangkan. Ia kembali suci,
seluruh goresan yang membekas dalam dirinya perlahan sirna, melebur bersama
kokohnya keyakinan dan harapan. Ringan. Dia terbang membawa cerita baru.
Tidak
mudah menyembuhkan diri setelah sebagian mimpinya dihancurkan begitu saja,
dikecewakan dengan berbagai kenyataan yang ada, telinga yang begitu sering
mendengar kata-kata menyakitkan, dan mata yang seringkali melihat hal-hal yang
menusuk batinnya. Terombang-ambing seperti berada di tengah gerombolan ombak
besar yang bisa saja menyeretnya kapan pun. Beruntung Tuhan menyelamatkannya.
Dia masih hidup, hatinya masih bisa melunak dan tidak membatu.
Semesta
berbisik dan pernah begitu keliru memberitahukan banyak hal padanya, kalut dan
keresahan yang dirasakannya kala itu. Orang-orang yang seakan membunuh perasaan
tulusnya, namun dia tetap bersikukuh membela seseorang yang sedang bersamanya,
tak mendengar apa kata orang. Dia mencintai seseorang itu.
Ratusan
purnama telah dilewatinya bersama, mengukir banyak kenangan, namun semesta
seolah selalu keliru, entahlah dengan rasa yang bersemanyam. Kekeliruan selalu
membutakan. Siapa yang keliru? Semesta? Atau dirinya sendiri? Dia kehilangan
arah ke mana harus melangkah, pernah se-tersesat itu dalam kegelapan yang
menyakitkan sekaligus mengukir kenangan indah. Fatamorgana.
Puing-puing
kehancuran itu masih terasa sedikit, menodai batinnya. Meski kian lama kian
memudar, bayangan itu kadang terlintas dalam pikirannya, namun dengan rasa yang
berbeda. Semesta memisahkan keduanya. Katanya “demi kebaikan”, terkesan klasik
untuk didengar, sejak masa itu, masa lampau. Fana.
Satu
keyakinannya, yang menjadi takdir, sejauh apa pun dia pergi, dia akan kembali.
Sejauh apa pun dia berada, kelak akan bertemu. Sesulit apa pun untuk bersama,
kelak akan bersatu. Sepelik apa pun kisah saat ini, kelak akan temukan bahagia.
Hanya soal waktu. Jika saat ini waktu tidak berpihak padanya, kelak ia akan
paham dan tersenyum lega. Semua tentang keyakinan.
Hidupnya
selalu ingin penuh arti, membuang berbagai macam kekeliruan. Tidak menyalahkan
apa yang sudah terlewati dan memaafkan berbagai rasa sakit yang pernah
bersemayam. Kini dia dapat kembali menyapa dunia, mereset kehidupannya sendiri
tanpa mengurangi esensi dari setiap apa pun yang pernah dialami.