Dadanya terasa sesak
Penuh dan berat entah apa
isinya
Sakit namun ia tak dapat
lagi mengekspresikannya
Tersisa senyum di bibirnya
yang terlihat manis
Nafas yang kadang tersenggal, tersendat
Tarikan nafas yang terkadang terasa pendek
Desiran urat-urat syaraf yang terasa naik ke ubun-ubun
Semua itu hanya dapat dirasakannya
Tatapan yang terkadang
kosong
Mulut yang lebih sering
bungkam
Senyum yang seringkali
terkesan dipaksakan
Helaan nafas yang kian
dikendalikannya
Seberat apa beban di dadanya?
Seluka apa goresan luka di batinnya?
Apa pula biang dari kehancuran hari-harinya?
Menyalahkan diri dan introspeksi yang bisa ia lakukan kini
Tuhan Maha baik, kan?
Tanyanya.
Filosofi Taoism yang ia tahu
sebelumnya
Mencoba berdamai dengan
keadaan
Tidak lagi ia memberontak
dan melawan
Ia termenung dan sedikit
menunduk
Melihat lebih dalam ke dalam
dirinya sendiri
Ini bukan akhir dari segalanya
Ini hanya perjalanan yang melelahkan
Melewati duri-duri tajam
Berbagai badai yang kian menghadangnya dengan kejam
Terlihat dari rautnya memejamkan mata
Menikmati setiap saat kesakitannya
Entah sampai kapan
Mungkin sampai keadaan dapat berbaik hati kepadanya
Ia bukan orang yang ingin
dilihat karena Iba
Bukan!!!
Ia hanya seorang yang
kehadirannya ingin dianggap ada
Ia punya cerita, ia tokoh
dalam ceritanya
Ia bukan wayang, yang
mau-mau saja dipermainkan kehidupan
Kini ia tersadar, hidupnya
pernah dan sempat dihancurkan
Untuk kemudian Tuhan
bangunkan agar lebih paham
Hakikat hidup untuk terus
berjalan, bukan untuk menahan kesakitan
Terimakasih... katanya
seraya tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar