Kamis, 30 Januari 2020

Fluktuasi Kehidupan


Dadanya terasa sesak
Penuh dan berat entah apa isinya
Sakit namun ia tak dapat lagi mengekspresikannya
Tersisa senyum di bibirnya yang terlihat manis
     Nafas yang kadang tersenggal, tersendat
     Tarikan nafas yang terkadang terasa pendek
     Desiran urat-urat syaraf yang terasa naik ke ubun-ubun
     Semua itu hanya dapat dirasakannya
Tatapan yang terkadang kosong
Mulut yang lebih sering bungkam
Senyum yang seringkali terkesan dipaksakan
Helaan nafas yang kian dikendalikannya
     Seberat apa beban di dadanya?
     Seluka apa goresan luka di batinnya?
     Apa pula biang dari kehancuran hari-harinya?
     Menyalahkan diri dan introspeksi yang bisa ia lakukan kini
Tuhan Maha baik, kan? Tanyanya.
Filosofi Taoism yang ia tahu sebelumnya
Mencoba berdamai dengan keadaan
Tidak lagi ia memberontak dan melawan
Ia termenung dan sedikit menunduk
Melihat lebih dalam ke dalam dirinya sendiri
     Ini bukan akhir dari segalanya
     Ini hanya perjalanan yang melelahkan
     Melewati duri-duri tajam
     Berbagai badai yang kian menghadangnya dengan kejam
     Terlihat dari rautnya memejamkan mata
     Menikmati setiap saat kesakitannya
     Entah sampai kapan
     Mungkin sampai keadaan dapat berbaik hati kepadanya
Ia bukan orang yang ingin dilihat karena Iba
Bukan!!!
Ia hanya seorang yang kehadirannya ingin dianggap ada
Ia punya cerita, ia tokoh dalam ceritanya
Ia bukan wayang, yang mau-mau saja dipermainkan kehidupan
Kini ia tersadar, hidupnya pernah dan sempat dihancurkan
Untuk kemudian Tuhan bangunkan agar lebih paham
Hakikat hidup untuk terus berjalan, bukan untuk menahan kesakitan
Terimakasih... katanya seraya tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar