Aku
berada di sebuah tempat bernama semesta. Sebelumnya, aku begitu menyukainya, kita
seolah bersahabat, saling mengerti, saling bekerjasama membangun sebuah kisah.
Namun
kali ini semestaku sedang tidak bersahabat, dia memberikan perasaan hampa. Di
setiap langkah dan tempat yang kupijak, aku seperti kehilangan arah, tak tahu
harus ke mana dan tak tahu dengan siapa saja aku berjalan. Sendiriankah? Aku
pun masih menyadari, di sekelilingku begitu banyak orang yang peduli, mereka
berlulu lalang mendekati. Lantas, apa lagi yang sebenarnya aku cari? Perasaan
hampa ini yang menjadikan semua seolah tak terlihat, kalang kabut dan aku
merasa sendiri.
Semua
hal yang telah terjadi, semua kejadian yang telah menimpa, seolah menyeretku ke
dalam kehidupan yang entah bagaimana aku bisa melukiskannya. Semua tampak abu,
kadang berwarna, kadang pula tak menentu. Ah, rasanya raga ini lelah. Aku akui,
aku gagal, aku lemah dan aku merasakan lelah, sama seperti manusia lainnya.
Aku
tidak pandai menutupi apa pun, termasuk rasaku. Aku telah berjalan sejauh ini,
bahkan tak tahu sudah sampai di mana aku saat ini? Seolah waktu membeberkan
semuanya padaku. Aku pernah terseret bersama sebuah kesalahan dan aku bertahan.
Hingga di titik aku tidak bisa lagi untuk memaksakan dan aku melepaskan
pegangan. Kini, apa yang kukira pantas ku pertahankan, dia pergi dengan
sendirinya, kini tersisa aku, seorang diri.
Tidak
apa bila memang ini jalan yang harus aku lalui, nyatanya apa yang seharusnya
ada dalam duniaku dia tidak pernah melewatkanku, dan apa yang melewatkanku, dengan
sendirinya hati ini mudah sekali menerimanya, aku melepaskan apa yang tidak
pantas aku genggam.
Setiap
orang memiliki waktunya masing-masing untuk mencoba berbagai rasa di kehidupan,
ini waktuku, aku merasakannya, entah harus bersyukur atau hanya menerimanya?
Aku patah karena diriku, tapi patah kali ini, tidak semengerikan dipatahkan
secara paksa. Aku sadar-sesadarnya dan aku sangat menikmatinya. Sebuah proses
yang mau tidak mau harus aku lewati.
Terimakasih
Januari kali ini, kini aku lebih mengerti. Aku tidak sepenuhnya salah, ini
hanya bagian dari cerita di hidupku yang kelak mungkin aku akan
mentertawakannya. Sebuah kebodohan yang pernah aku perbuat, bagaimana keras
kepalanya aku, bagaimana polosnya aku, semua ini tinggallah cerita. Ya, aku
senang bercerita, barangkali kelak akan ada orang yang selalu bersedia dan
dengan senang hati mendengarkan cerita-ceritaku ini. Kukira, ceritaku tak akan
ada habisnya, tapi menyenangkan bukan? Aku tersenyum menyambut esok, kelak kita
akan tertawa bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar