Sabtu, 01 Februari 2020

Kisah


Aku berada di sebuah tempat bernama semesta. Sebelumnya, aku begitu menyukainya, kita seolah bersahabat, saling mengerti, saling bekerjasama membangun sebuah kisah.

Namun kali ini semestaku sedang tidak bersahabat, dia memberikan perasaan hampa. Di setiap langkah dan tempat yang kupijak, aku seperti kehilangan arah, tak tahu harus ke mana dan tak tahu dengan siapa saja aku berjalan. Sendiriankah? Aku pun masih menyadari, di sekelilingku begitu banyak orang yang peduli, mereka berlulu lalang mendekati. Lantas, apa lagi yang sebenarnya aku cari? Perasaan hampa ini yang menjadikan semua seolah tak terlihat, kalang kabut dan aku merasa sendiri.

Semua hal yang telah terjadi, semua kejadian yang telah menimpa, seolah menyeretku ke dalam kehidupan yang entah bagaimana aku bisa melukiskannya. Semua tampak abu, kadang berwarna, kadang pula tak menentu. Ah, rasanya raga ini lelah. Aku akui, aku gagal, aku lemah dan aku merasakan lelah, sama seperti manusia lainnya.

Aku tidak pandai menutupi apa pun, termasuk rasaku. Aku telah berjalan sejauh ini, bahkan tak tahu sudah sampai di mana aku saat ini? Seolah waktu membeberkan semuanya padaku. Aku pernah terseret bersama sebuah kesalahan dan aku bertahan. Hingga di titik aku tidak bisa lagi untuk memaksakan dan aku melepaskan pegangan. Kini, apa yang kukira pantas ku pertahankan, dia pergi dengan sendirinya, kini tersisa aku, seorang diri.

Tidak apa bila memang ini jalan yang harus aku lalui, nyatanya apa yang seharusnya ada dalam duniaku dia tidak pernah melewatkanku, dan apa yang melewatkanku, dengan sendirinya hati ini mudah sekali menerimanya, aku melepaskan apa yang tidak pantas aku genggam.
Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk mencoba berbagai rasa di kehidupan, ini waktuku, aku merasakannya, entah harus bersyukur atau hanya menerimanya? Aku patah karena diriku, tapi patah kali ini, tidak semengerikan dipatahkan secara paksa. Aku sadar-sesadarnya dan aku sangat menikmatinya. Sebuah proses yang mau tidak mau harus aku lewati.

Terimakasih Januari kali ini, kini aku lebih mengerti. Aku tidak sepenuhnya salah, ini hanya bagian dari cerita di hidupku yang kelak mungkin aku akan mentertawakannya. Sebuah kebodohan yang pernah aku perbuat, bagaimana keras kepalanya aku, bagaimana polosnya aku, semua ini tinggallah cerita. Ya, aku senang bercerita, barangkali kelak akan ada orang yang selalu bersedia dan dengan senang hati mendengarkan cerita-ceritaku ini. Kukira, ceritaku tak akan ada habisnya, tapi menyenangkan bukan? Aku tersenyum menyambut esok, kelak kita akan tertawa bersama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar