Sabtu, 08 Februari 2020

Bahagialah :)


Sepuas-puasnya diri ini menyalahkan diri sendiri
Sepuas-puasnya diri ini tak mampu lagi membela diri sendiri
Sembilah pisau terasa ditancapkan ke dalam relung hati ini
Lantas mengapa sakitnya tidak terlalu perih?
Sebelumnya, aliran darah terasa mengucur deras di dalamnya
Kini, entah ke mana lagi desiran darah itu mengalir
Entah bagaimana pula bentuk hati ini kini?
Entah dia telah mati atau terlalu kebal untuk mengalirkan kembali darah hingga luruh lagi?
     Dahulu begitu terasa, seperti tertusuk belati
     Mencoba memaafkan, berdiri dan kembali lagi
     Mungkin diri ini terlalu ego, menggenggam terlalu erat apa          yang tidak seharusnya digenggam
     Mungkin diri ini telah keliru, kehadirannya tak pernah             diinginkan seseorang itu
     Mungkin pula diri ini keliru, bahwa seseorang itu diciptakan bukan untuk dimiliki
Kini, semuanya telah usai
Sempat begitu hancur
Perasaan layaknya tertusuk pisau yang menyambar seketika
Menyayat bagian tertipis dari hati ini
Darah itu kembali meluruh
Cukup!!! Kataku
Tak perlu lagi kau teruskan ucapan keji itu
Aku salah!!! Diri ini menyalahkan dirinya, atas rasa sakitnya
Mungkin benar, rasa yang ada pada diri ini sebuah kekeliruan
Diri yang begitu mencinta, tapi yang dicinta telah hilang sejak sekian lama
     Jika diri ini pantas dimaki, makilah
     Jika pantas diabaikan, abaikanlah
     Jika pantas terganti, bergantilah
     Jika pantas ditinggal pergi, pergilah
     Nyatanya diri ini masih bisa menahan meski hadirnya tidak           diterima
     Nyatanya diri ini masih bisa merasa meski hadirnya berulang         kali tak dianggap ada
     Maafkan, maafkan atas rasaku yang keliru
     Maafkan diri ini yang sempat ikut berteduh
     Kehadiranku tak diinginkan lagi
     Kehadiranku mungkin hanya dianggap benalu
     Rasamu telah pergi lebih dulu, kini mungkin bagianku
Pergilah dengan senyuman terindahmu
Sudah pernah kukatakan aku rela
Aku rela ditinggalkan jika hadirku tak ada lagi arti
Aku bukan benalu
Aku bukan pengganggu
Aku juga manusia yang hadir bukan untuk menyakiti
Hadirku ingin membuatmu bahagia
Namun nyatanya berbeda, hadirku membuatmu luka
Berbahagialah...
Aku tersenyum mendengarmu kini telah bahagia
Mendengar dari mulutmu sendiri, bukan dari yang lain
Aku masih di sini, dengan diriku, yang dulu
Mungkin nanti, aku tidak lagi ada di tempat ini
Aku sudah berjalan, perlahan, tertatih, tapi aku tetap berjalan
Entah ke mana dan sampai kapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar