Sepuas-puasnya diri ini
menyalahkan diri sendiri
Sepuas-puasnya diri ini tak
mampu lagi membela diri sendiri
Sembilah pisau terasa ditancapkan
ke dalam relung hati ini
Lantas mengapa sakitnya
tidak terlalu perih?
Sebelumnya, aliran darah
terasa mengucur deras di dalamnya
Kini, entah ke mana lagi
desiran darah itu mengalir
Entah bagaimana pula bentuk
hati ini kini?
Entah dia telah mati atau
terlalu kebal untuk mengalirkan kembali darah hingga luruh lagi?
Dahulu begitu terasa, seperti tertusuk belati
Mencoba memaafkan, berdiri dan kembali lagi
Mungkin diri ini terlalu ego, menggenggam terlalu erat apa yang tidak seharusnya digenggam
Mungkin diri ini telah keliru, kehadirannya tak pernah diinginkan seseorang itu
Mungkin pula diri ini keliru, bahwa seseorang itu diciptakan
bukan untuk dimiliki
Kini, semuanya telah usai
Sempat begitu hancur
Perasaan layaknya tertusuk
pisau yang menyambar seketika
Menyayat bagian tertipis
dari hati ini
Darah itu kembali meluruh
Cukup!!! Kataku
Tak perlu lagi kau teruskan
ucapan keji itu
Aku salah!!! Diri ini menyalahkan
dirinya, atas rasa sakitnya
Mungkin benar, rasa yang ada
pada diri ini sebuah kekeliruan
Diri yang begitu mencinta,
tapi yang dicinta telah hilang sejak sekian lama
Jika diri ini pantas dimaki, makilah
Jika pantas diabaikan, abaikanlah
Jika pantas terganti, bergantilah
Jika pantas ditinggal pergi, pergilah
Nyatanya diri ini masih bisa menahan meski hadirnya tidak diterima
Nyatanya diri ini masih bisa merasa meski hadirnya berulang kali
tak dianggap ada
Maafkan, maafkan atas rasaku yang keliru
Maafkan diri ini yang sempat ikut berteduh
Kehadiranku tak diinginkan lagi
Kehadiranku mungkin hanya dianggap benalu
Rasamu telah pergi lebih dulu, kini mungkin bagianku
Pergilah dengan senyuman
terindahmu
Sudah pernah kukatakan aku
rela
Aku rela ditinggalkan jika
hadirku tak ada lagi arti
Aku bukan benalu
Aku bukan pengganggu
Aku juga manusia yang hadir
bukan untuk menyakiti
Hadirku ingin membuatmu
bahagia
Namun nyatanya berbeda,
hadirku membuatmu luka
Berbahagialah...
Aku tersenyum mendengarmu
kini telah bahagia
Mendengar dari mulutmu
sendiri, bukan dari yang lain
Aku masih di sini, dengan
diriku, yang dulu
Mungkin nanti, aku tidak
lagi ada di tempat ini
Aku sudah berjalan,
perlahan, tertatih, tapi aku tetap berjalan
Entah ke mana dan sampai
kapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar