Kamis, 20 Februari 2020

Syarat Makna


Pagi di kesunyian, saat banyak orang masih terlelap dalam mimpi indahnya, dia telah lebih dulu terbangun. Mengambil sebuah notebook dan pena yang selalu berada di dekatnya, di mana pun dia berada. Melukiskan kata di atas lembar demi lembarnya.
Sepagi itu pikirannya masih begitu jernih, raganya sungguh segar setelah semalaman memenuhi haknya untuk beristirahat. Sembari membuka lembaran notebook di tangannya, ia tersenyum menyambut lembaran berikutnya untuk dituliskan sebuah kisah indah dan berbagai harapan baik dihidupnya.
Ia sang pengelana, menyukai dunia luar yang indah dan luas. Namun dikala kehampaan datang, rasa sepi menjadi temannya kala itu. Tidak ada lagi kelana ke dunia luar yang katanya indah dan luas, hanya berkelana dalam indah dan luasnya makna dari kehidupannya sendiri. Masih sebuah kata dengan nama “kelana”.
Berminggu-minggu menikmati kelana, lebih mendalam dari sekadar berkeliling menjelajah indahnya semesta. Jiwanya sempat begitu rapuh, namun ia seorang yang tak mudah berputus asa. Selalu ada senyum di balik kecewanya, tatapan mata yang lebih jernih bersamaan dengan luka-luka yang kian hari kian meluruh. Di dalam ruangan dia menjelajah dirinya sendiri, mengenal lebih dalam siapa dirinya.
Luasnya semesta tak kalah luas dengan semesta yang ada pada dirinya, sorot matanya memberikan pandangan penuh makna, meneduhkan dan menyenangkan. Ia kembali suci, seluruh goresan yang membekas dalam dirinya perlahan sirna, melebur bersama kokohnya keyakinan dan harapan. Ringan. Dia terbang membawa cerita baru.
Tidak mudah menyembuhkan diri setelah sebagian mimpinya dihancurkan begitu saja, dikecewakan dengan berbagai kenyataan yang ada, telinga yang begitu sering mendengar kata-kata menyakitkan, dan mata yang seringkali melihat hal-hal yang menusuk batinnya. Terombang-ambing seperti berada di tengah gerombolan ombak besar yang bisa saja menyeretnya kapan pun. Beruntung Tuhan menyelamatkannya. Dia masih hidup, hatinya masih bisa melunak dan tidak membatu.
Semesta berbisik dan pernah begitu keliru memberitahukan banyak hal padanya, kalut dan keresahan yang dirasakannya kala itu. Orang-orang yang seakan membunuh perasaan tulusnya, namun dia tetap bersikukuh membela seseorang yang sedang bersamanya, tak mendengar apa kata orang. Dia mencintai seseorang itu.
Ratusan purnama telah dilewatinya bersama, mengukir banyak kenangan, namun semesta seolah selalu keliru, entahlah dengan rasa yang bersemanyam. Kekeliruan selalu membutakan. Siapa yang keliru? Semesta? Atau dirinya sendiri? Dia kehilangan arah ke mana harus melangkah, pernah se-tersesat itu dalam kegelapan yang menyakitkan sekaligus mengukir kenangan indah. Fatamorgana.
Puing-puing kehancuran itu masih terasa sedikit, menodai batinnya. Meski kian lama kian memudar, bayangan itu kadang terlintas dalam pikirannya, namun dengan rasa yang berbeda. Semesta memisahkan keduanya. Katanya “demi kebaikan”, terkesan klasik untuk didengar, sejak masa itu, masa lampau. Fana.
Satu keyakinannya, yang menjadi takdir, sejauh apa pun dia pergi, dia akan kembali. Sejauh apa pun dia berada, kelak akan bertemu. Sesulit apa pun untuk bersama, kelak akan bersatu. Sepelik apa pun kisah saat ini, kelak akan temukan bahagia. Hanya soal waktu. Jika saat ini waktu tidak berpihak padanya, kelak ia akan paham dan tersenyum lega. Semua tentang keyakinan.
Hidupnya selalu ingin penuh arti, membuang berbagai macam kekeliruan. Tidak menyalahkan apa yang sudah terlewati dan memaafkan berbagai rasa sakit yang pernah bersemayam. Kini dia dapat kembali menyapa dunia, mereset kehidupannya sendiri tanpa mengurangi esensi dari setiap apa pun yang pernah dialami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar