Kamis, 13 Februari 2020

Saat ini dan suatu saat nanti

Perasaan dalam batin terasa luruh.
Seperti ada aliran yang terus mengalir, menjalar, terasa, namun tak dapat berkata sedikit pun.
Mata memandang dengan tatapan tak berarti
Pikiran membisu dan ikut menyaksikan betapa kerasnya gemuruh dan gejolak dalam batin ini.
Aliran darah ikut membisu, mulut yang bungkam, mata yang melihat ke sedikit arah.

Jiwa berontaknya seakan kalah, tak lagi melawan.
Jiwanya berubah lirih, hanya menikmati waktu demi waktu yang terus berjalan.

Ke manakah nuraninya?
Nyatanya lelah terasa menusuk hingga tak lagi bisa bangkit, raganya melemah, batinnya melemah, pikirannya berpasrah, hanya air mata yang mampu berucap.

Mulutnya lebih sedikit bercerita, senyumnya hanya sebatas membalas senyum-senyum lainnya, dikesendirian hanya termenung.
Apa makna dalam kehidupan ini, sejauh melangkah, semua tampak fana, datang dan pergi, kemudian sakit hati.

Biarlah...
Waktu kini mungkin tak sedang berpihak, menghancurkan bentengnya hingga hanya berbentuk puing-puing debu.

Waktu terus berjalan, satu keyakinan, roda terus berputar, tak selamanya rasa ini abadi, ada saatnya semua sirna dan berganti bahagia.
Suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar